
Pemerintah daerah di sejumlah wilayah Jawa memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang berpotensi memicu kembali krisis air bersih. Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kewaspadaan menyusul prediksi kekeringan yang disebut bakal lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sementara di Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan status siaga darurat kekeringan, dan di Tasikmalaya distribusi bantuan air bersih sudah mengalir ke permukiman warga pelosok.
Data BPBD Sleman mencatat Kapanewon Pakem, Tempel, dan Minggir sebagai wilayah dengan volume distribusi air bersih terbesar sepanjang 2022–2025, menjadikannya prioritas pemantauan pada musim kemarau tahun ini. Pada 2023, Tempel menerima lebih dari 1 juta liter air bersih, disusul Minggir sebanyak 1.071.600 liter dan Pakem sekitar 953.000 liter yang disalurkan ke sejumlah kalurahan. Secara kumulatif, Sleman telah mendistribusikan 5.346.350 liter air bersih kepada 17.676 jiwa dalam empat tahun terakhir, dengan kebutuhan yang menurun tajam pada 2025 menjadi hanya 92.000 liter bagi 259 jiwa di Kalurahan Hargobinangun, Pakem.
Di Cirebon, status siaga darurat kekeringan ditetapkan berlaku 1 Juli hingga 30 September 2026, mengacu pada keputusan Gubernur Jawa Barat. BPBD setempat melakukan pemetaan daerah rawan, mulai dari krisis air bersih hingga potensi kebakaran lahan dan hutan. Rekam jejak beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika signifikan: pada 2019, kekeringan berdampak pada 57 desa di 21 kecamatan, turun menjadi 38 desa di 21 kecamatan pada 2023, lalu menyusut lagi menjadi 19 desa di enam kecamatan pada 2024. Pada 2025, tidak tercatat desa terdampak kekeringan, namun kewaspadaan tetap dinaikkan tahun ini, terutama di kecamatan-kecamatan yang selama ini dinilai rawan seperti Gempol, Mundu, Sedong, Greged, Beber, Gunungjati, Kapetakan, Suranenggala, Klangenan, Panguragan, Waled, Karangsembung, Gegesik, dan Tengah Tani.
BPBD Cirebon menyiapkan sejumlah skenario penanganan, antara lain armada mobil tangki untuk distribusi air bersih dan pengaktifan posko komando darurat kekeringan selama masa siaga. Pendekatan serupa juga tampak di Kabupaten Tasikmalaya, di mana distribusi air bersih dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas sekitar 4.000 liter ke wilayah pelosok Kecamatan Bojonggambir. Di sana, bantuan mengalir ke Desa Kertanegla dan Pedangkamulyan menyusul mengeringnya sejumlah sumber air pada awal kemarau 2026, dengan penyaluran dilakukan bertahap menyesuaikan kebutuhan warga dan ketersediaan pasokan.
Meski bantuan darurat digencarkan, di Tasikmalaya muncul desakan masyarakat agar pemerintah tidak hanya mengandalkan pengiriman air tangki. Warga terdampak menilai bantuan sangat membantu kebutuhan jangka pendek, tetapi menginginkan solusi lebih permanen untuk menjamin ketersediaan air bersih saat kemarau berulang. Di tengah tren penurunan desa terdampak beberapa tahun terakhir di Sleman dan Cirebon, kombinasi kewaspadaan lebih dini, pemetaan wilayah rawan, serta tuntutan solusi jangka panjang dari warga menjadi penanda bahwa persoalan air bersih kian menjadi isu strategis yang tak bisa hanya dijawab dengan respons darurat musiman.

New World Development Co. and Ares Management Corp. have sharply cut asking prices for units at their grade-A office project in Hong Kong’s Cheung Sha Wan district, in one of the deepest discounts seen in the city’s commercial property market. According to people familiar with the matter and local media reports, prices at 83 Wing Hong Street have been reduced by as much as 57% from levels when the project first launched sales in 2024, with some units now offered below the developer’s original land cost.
After factoring in discounts and rebates, certain floors at the 28-storey tower are being marketed at about HK$5,600 per square foot, with other units around HK$7,000 per square foot, the people said. That compares with initial asking prices of roughly HK$13,000 per square foot at the start of the year and is lower than the about HK$7,996 to HK$8,000 per square foot New World paid for the site in 2017. The aggressive pricing underscores the pressure facing owners of commercial assets outside Hong Kong’s core business districts, even as sentiment in the broader property market has started to improve.
The building, completed in 2023 and branded “83 Wing Hong Street,” is located near Lai Chi Kok MTR station in Kowloon, about a five-minute walk from the railway and around a 20-minute train ride from Central. It comprises office space from the fifth floor upward, with a total gross floor area of roughly 440,000 square feet and includes both office and retail components. While the steep reductions have helped lift transaction momentum in recent weeks, they also highlight how landlords in non-core locations are having to adjust expectations to clear inventory.
Hong Kong’s office sector remains weighed down by high vacancies, particularly outside the traditional Central business district. Data from CBRE show the citywide office vacancy rate stood at 16.8% at the end of March, close to a historic high, amid a wave of new completions. That contrasts with signs of a broader recovery in the residential segment, leaving some investors reassessing exposure to commercial assets. Ares declined to comment on the pricing moves, while New World did not respond to requests for comment, according to earlier reports.