Koalisi Masyarakat Sipil Anggap BTP TNI Ancaman bagi Reformasi Sektor Keamanan

05.07.2026


Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah dan DPR terkait rencana pembentukan Batalion Teritorial Pembangunan (BTP) di lingkungan TNI. Koalisi yang beranggotakan sejumlah organisasi hak asasi manusia dan pemantau sektor keamanan itu mendesak Presiden, DPR, Kementerian Pertahanan, dan Panglima TNI menghentikan proyek BTP beserta agenda perluasan komando teritorial yang dinilai tidak memiliki urgensi jelas di bidang pertahanan.

Penolakan atas pembangunan BTP mengemuka di beberapa wilayah, termasuk Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, Banten, dan Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Di lokasi-lokasi tersebut, warga mempersoalkan sengketa lahan yang dinilai mengancam ruang hidup yang sudah mereka kelola secara turun-temurun. Konflik juga muncul dalam hubungan dengan masyarakat adat terkait hak ulayat, seperti di Simawang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan Kabupaten Nagekeo di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Perwakilan Koalisi menilai kebijakan pembentukan BTP tidak bisa dipandang sebagai urusan teknis internal TNI semata. Satuan teritorial yang diproyeksikan untuk mendukung pembangunan dinilai merupakan pilihan politik pertahanan dengan konsekuensi luas terhadap tata negara, hubungan sipil-militer, jaminan konstitusional hak warga negara, dan arah demokrasi Indonesia pascareformasi. Koalisi memperingatkan bahwa langkah ini berpotensi menghidupkan kembali praktik dwifungsi militer, mempersempit ruang kebebasan sipil, meningkatkan risiko pelanggaran hak asasi manusia, dan mengaburkan batas antara fungsi pertahanan negara dengan pemerintahan sipil.

Koalisi juga merujuk pada kerangka hukum yang menempatkan TNI sebagai alat pertahanan negara. Konstitusi melalui Pasal 30 ayat (3) UUD 1945 menegaskan tugas TNI adalah mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan serta kedaulatan negara. Dalam pandangan Koalisi, mandat tersebut tidak mencakup peran sebagai instrumen pembangunan domestik yang dapat menggantikan atau membayangi fungsi pemerintahan sipil. Mereka menilai kekaburan mandat antara pertahanan, keamanan, pembangunan, dan urusan sipil berisiko membuka ruang intervensi militer di ranah yang semestinya berada di bawah kendali otoritas sipil demokratis, sehingga memerlukan evaluasi menyeluruh sebelum kebijakan dilanjutkan.

Reusable Cup Push in Taipei Targets 50,000 Fewer Disposable Drink Cups

05.07.2026


Taipei is doubling down on efforts to cut consumption of single-use beverage cups, rolling out a city-backed discount that rewards customers for bringing their own containers to popular hand-shaken drink chains. From July 2 through Dec. 31, consumers who visit participating Taipei outlets of Milksha (迷客夏) and TEA TOP on Thursdays will receive a NT$10 discount per drink when they use a reusable cup, up from the standard NT$5 required by national rules.

The program, jointly launched by the Taipei Environmental Protection Department and the two chains, covers 46 Taipei stores and is capped at 50 discounted drinks per outlet each Thursday. The NT$10 reduction combines the existing NT$5 price difference that chains must offer under the "Restrictions on the Use of Disposable Beverage Cups" with an additional NT$5 subsidy from the city. The offer does not apply to prepaid or stored-value orders, and outlets in other municipalities continue to provide only the basic NT$5 discount.

Taipei officials say the initiative builds on a smaller 2023 pilot with five brands and 18 outlets that generated 4,385 instances of reusable-container use between Sept. 18 and Oct. 9. By expanding the scope and duration and partnering with high-traffic milk tea brands, the city estimates the latest round could spur about 50,000 drinks served in personal cups, cutting a similar number of disposable cups from the waste stream. Authorities argue that as more people adjust their daily purchasing habits, the cumulative impact on waste reduction, resource use and environmental pressure will become increasingly significant.

The city is also tying the push to its digital payments ecosystem. Consumers who register for the "Plastic Reduction EasyLife" (減塑EasyLife) campaign in the EasyCard Pay (悠遊付) app and link a mobile barcode can earn additional rewards when they buy drinks in reusable cups and opt for cloud invoices, on top of the price discount offered at the counter. Taipei officials frame the effort as a public–private partnership designed to make environmentally friendly behavior financially attractive, positioning the weekly rebate as both a way to trim beverage costs and a step toward a longer-term shift away from disposable cups in one of the world’s most beverage-focused urban markets.